Ina Rubiatul Hasanah

A34100091

CERITA INSPIRASI DARI SAHABATKU

Sewaktu aku kecil, aku baru masuk kelas 1 SD merasa berbeda dengan anak-anak seumuranku, aku tidak mempunyai teman, tidak mempunyai apa tujuan aku disini, tak ada motivasi, tak ada dukungan sama sekali baik dari teman, guru, bahkan orang tua ku sendiri.

Kehidupanku di rumah, aku adalah anak terakhir dari 4 bersaudara, sejak kecil orang tua ku hanya berpikir aku cepat menyelesaikan sekolahku, mendapat prestasi memuaskan mereka, tapi tidak pernah memperhatikan aku, aku merasa menjadi anak tiri seperti yang selalu diceritakan guru ku di sekolah. Itu lah yang menyebabkan aku jenuh dan selalu mencari cara untuk menghilangkannya. Aku selalu menghibur diri dengan berimajinasi, mencari hal-hal yang bisa membuatku tertawa bahagia. Namun aku sering melakukan itu disaat jam pelajaran, ketika guru sedang mengajar, dan karena itulah aku sering dimarahi oleh guru-guru di sekolah. Ketika pada suatu hari, guru ku kesal kemudian melaporkan aku kepada kedua orang tua ku. Ketika aku pulang sekolah, tanpa basa-basi lagi orang tua langsung memarahi ku. Aku hanya tertunduk diam, dan menangis, sakit hati benar-benar menyerangku. Orang tuaku terlalu mengajarkanku dengan keras. Dan aku sangat membenci tindakan keras itu. Aku setiap hari selalu berpikir bagaimana menghilangkan perasaan itu, yaitu dengan cara menghibur diri dengan caraku sendiri, dan berimajinasi lagi. Karena hanya itulah yang dapat aku lakukan. Teman pun aku tak punya, akibat kebodohanku di sekolah.

Saat aku kelas 2 dan 3 aku baru mempunyai seorang teman, dia bisa menghibur dan menerima aku apa adanya. Aku sangat bahagia dan bersyukur saat itu. Saking tidak perhatiannya orang tuaku, mereka tidak tahu bahwa aku tidak mempunyai teman.

Saat-saat seperti itu masih aku alami sampai saat ketika aku akan ebtanas 2004, aku sudah mulai memiliki teman-teman yang membantu ku untuk berpikir secara dewasa. Aku mulai berpikir bagaimana cara untuk membuktikan pada orang tuaku bahwa aku mampu berprestasi tanpa bimbingan mereka. Tapi ternyata usaha ku sia-sia, mereka tidak mempercayai apa yang aku dapatkan. Aku mulai tidak peduli dengan hal itu, aku hanya memikirkan bagaimana aku nanti.

Ketika aku mulai beranjak SMP, aku mencoba mencari teman yang mau menerima kekurangan dan kelebihanku, berbeda dengan masa kecil ku kini aku mempunyai banyak teman-teman yang mau menerima dan mendukung ku. Saat itu pun aku sangat senang. Aku selalu mengikuti langkah-langkah keberhasilan mereka, dan aku pun mampu berprestasi. Prestasi demi prestasi aku raih dan aku rasa itu cukup untuk membuktikan pada orang tua ku. Ketika di akhir kelulusan ku, aku tunjukan bahwa inilah anak kalian, mampu membuktikan menjadi anak yang kalian impikan dengan caraku sendiri bukan dengan pelajaran keras. Pada saat itu aku beranikan diri untuk berkata, “Bahwa setiap orang mempunyai karakter yang berbeda, ada yang mau maju dengan cara keras dan cara lembut. Dan aku anak kalian mampu untuk berprestasi tanpa bantuan kalian.”

Ketika saya selesai mendengarkan cerita sahabat saya, pelajaran yang saya dapat adalah ketika keluarga tidak mampu membentuk kepribadian seseorang, maka lingkungan lain yang lebih kita terima keberadaan nya mampu menjadikan sesuatu menjadi baik bahkan mungkin menjadi buruk. Maka kembali kepada pribadi diri sendiri apa tekad, tujuan, dan keinginan kita untuk diri kita sendiri.

Nama : Ina Rubiatul Hasanah

NIM : A34100091

12 September 2010, disaat orang lain sibuk dengan acara mudik dan liburan pasca lebaran saya hanya sibuk dirumah untuk mengerjakan tugas-tugas yang saya bawa mudik ke kampung halaman. Saya adalah salah satu cucu paling besar di keluaga nenek saya, oleh karena itu terasa masih sedikit gengsi apabila hanya saya seorang, diantara adik sepupu saya. Namun ketika mereka akan pergi ke suatu tempat rekreasi kolam renang, saya merasa tertarik, saya lihat mereka sangat antusias.

Kolam renang, pada hari itu banyak sekali orang-orang berkunjung kesana, dimulai dari tempat parkir, kolam renang sampai tempat makan, malas sekali rasanya. Tapi pemandangan itu tidak menghilangkan antusias mereka, adik-adik sepupu saya, sampai adik sepupu saya yang paling kecil pun semakin semangat melihat begitu banyak orang disana. Dimulai dari tantangan adik sepupu lelaki saya untuk berenang dikolam yang paling dalam, jujur saya tidak suka ditantang anak kecil, saya pun nekat, walau tidak terlalu menguasai tekhnik berenang namun saya bermodal keberanian. Tantangan pertama selesai, tantangan ke dua cukup sangat mengerikan, bagaimana tidak, selain harus bermodal keberanian saya pun harus melawan diri saya yang takut akan ketinggian, merasa benar-benar ditantang saya pun mulai menaiki anak tangga menuju perosotan yang tingginya sekitar 8 meteran. Bagi mereka mungkin merupakan hal kecil yang bahkan untuk anak kelas 4 SD pun mudah, namun bagi saya mahasiswi tingkat 1 yang trauma dengan perosotan dan ketinggian itu adalah hal besar yang menakutkan, namun memalukan apabila tidak bisa saya lewati. Saya benar-benar merasa tertantang ketika adik saya ingin saya melewatinya, namun ketika sampai diatas kaki, tangan dan pikiran saya terasa lemas. Sempat ingin kembali ke bawah, namun saying itu tidak mungkin. Melihat orang-orang tertawa senang, ingin rasanya merasakan itu, apalagi beban masalah yang menumpuk ini ingin saya lepaskan, saya hanya perlu melawan ketakutan saja. Nekat atau ada keberanian saya mulai bersiap-siap meluncur. Hari mendadak gelap, dan ketika saya membuka mata, saya terendam air. Ya saya berhasil melawan ketakutan. Pelajaran yang saya petik, yang saya lawan bukan ketakutan, tapi justru keberanian saya, apa saya punya keberanian? Itu untuk hal kecil yang begitu sepele, apalagi untuk hal besar, saya harus takhlukan, dimulai dari diri sendiri dan hal-hal besar diluar sana.